Kanker leher rahim (serviks) adalah jenis kanker yang muncul di bagian bawah rahim, tepat di area yang menghubungkan rahim dengan vagina.
Penyakit ini bisa dialami oleh siapa saja— tanpa memandang usia, terutama perempuan yang sudah pernah aktif secara seksual. Namun, wanita yang tidak aktif secara seksual juga tetap berisiko terjangkit melalui kontak kulit ke kulit.
Penyebab utamanya adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV), yaitu virus yang bisa menular melalui hubungan seksual dan kontak kulit ke kulit. Infeksi ini sering kali tidak menimbulkan gejala, tapi jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi kanker.
Tapi... tidak semuanya berbahaya, kok. Yuk kenalan dengan dua kelompok utama HPV:


Meskipun infeksi HPV jadi penyebab utama, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko terkena kanker leher rahim, di antaranya:

Sistem imun yang lemah.3,4

Merokok, termasuk sebagai perokok pasif.4

Infeksi seperti klamidia, kencing nanah, dan HIV/AIDS.3

Konsumsi pil KB lebih dari 5 tahun berturut-turut.5

Infeksi seperti klamidia, kencing nanah, dan HIV/AIDS.5
Faktor-faktor ini bukan penyebab langsung, tapi bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi HPV yang berisiko tinggi berkembang menjadi kanker.

Setiap 25 menit, 1 perempuan meninggal karena kanker leher rahim.

Akibatnya lebih dari 21,000 perempuan meninggal setiap tahun karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan dideteksi sejak dini.

Ada lebih dari 36,000 kasus baru setiap tahunnya, dan 70% diantaranya ditemukan saat sudah stadium lanjut.
Tapi yang menyedihkan, hanya sekitar 7% perempuan di Indonesia yang sudah pernah menjalani skrining kanker leher rahim. Artinya, masih banyak yang belum tahu atau belum punya akses ke layan an ini.

Meskipun kanker leher rahim bisa dicegah dan disembuhkan, tingkat deteksi dini di Indonesia masih sangat rendah. Beberapa alasannya adalah:

Ada anggapan bahwa HPV hanya menyerang orang dengan banyak pasangan. Padahal, HPV bisa dialami siapa saja, termasuk yang hanya punya satu pasangan seumur hidup. Virus ini sangat umum, dan tidak ada hubungannya dengan kesetiaan.

Sebagian perempuan enggan periksa karena takut dinilai buruk oleh pasangan, keluarga, atau bahkan tenaga medis. Padahal, kesehatan kita jauh lebih penting daripada pendapat orang lain.

Pemeriksaan HPV DNA itu aman dan nyaman. Bahkan sekarang ada metode self-sampling, jadi kamu bisa ambil sampel sendiri — lebih pribadi dan tidak perlu malu.

Tidak selalu!
Hasil positif HPV bukan berarti kamu terkena kanker. Justru dari sini kamu bisa mengambil langkah pencegahan sebelum penyakit berkembang.

Masalahnya, HPV sering tidak menimbulkan gejala sama sekali. Itulah kenapa skrining rutin penting — supaya bisa mendeteksi risiko sejak dini, sebelum terlambat.
Source: